KARYA AKAN DATANG : "Lirih Naluri Seorang Hawa"




“Inilah tipikal perempuan kita. Easy to forgive, but difficult to forget. Setelah dibujuk-rayu, mulut begitu mudah mengaku diri sedia memaafkan. Sedangkan dalam hati, bagaikan sembilu menghentam jiwa, susah nak lupa. Adakala sampai berdendam seumur hidup.” 

Tutur berbaur sindiran sinis itu serba-sedikit menggoyah kewibawaannya selaku seorang perempuan. Dia menelan liur. Kelat!

Terkadang dia ingin menjadi seekor burung. Menebar sayap seluas-luasnya. Meluncur cemerlang ke angkasa raya. Bermigrasi lewat tempoh musim-musim nan bersemi. Tanpa dipalit perasaan jengkel lewat kekhilafan waktu hinggap. Segalanya teratur. Bergorak rutin tanpa gangguan.

Namun, dia hanyalah manusia biasa. Seorang wanita yang sarat dengan naluri keperempuanan. Mudah terusik andai kasihsayang di adu-domba. Senang terluka pada cinta yang berpaling sauh. Juga cepat tersentuh andai maruah diinjak-injak pada sebuah kecurangan yang mencabar wibawa diri. Dia tetap kalah dengan suatu ketentuan takdir yang amat berat ditanggung jiwa.

Sedutan :
Cerpen "Lirih Naluri Seorang Hawa"
Akan datang ke media cetak

SEBERKAS MUTIARA KATA

 

"Orang beriman yang menjalani setiap saat dalam kehidupan dunianya sesuai dengan ajaran Al Quran tidak akan membiarkan fikirannya dikuasai oleh fikiran yang tidak berguna dan tidak masuk akal selama perjalanan. Dia mengarahkan perhatiannya pada hal dan peristiwa yang dapat dia renungkan dengan mendalam"

Yahya Harun
24 Hours in the Life of a Muslim (UK)
Ta-Ha Publisher Ltd

Terjemahan Rina S Marzuki

MELAYU LAMA - Satria Abadi


Berkembang dan mewangi
perjuangan yang dikau beri
kupuja dan kupuji
menambahkan kedaulatan suci

Bersama kuturuti
mendoakan kekanda pergi
kubelai dan kujaga
cahayamata kesayangan kita

Menantikan masa
dikau pulang di hari bahagia
seribu harapan
kemenangan menjadi impian

Usah bimbang dihati
tabah sabar satria abadi
waspada gerak-geri
bentengkanlah nusantara ini

Melestari wulangreh budaya bangsa

Hanya Satu Cinta


Tatkala semusim itu
hadir melewat
suram kabut menggeromol
bukat hitam rakus 
mencempera malam 
ibarat berlangut
cantingan langit ditengadah
mengimpi purnama


Khayal seloka kerdipan
bintang kejora  dituding
Saksama benak mencongak
lewat takdir tanpa 
sempadan jernih
mahupun keruh

Tiada yang lain
lafaz sukma tulus
bersulam redha
hanya tunggal 
diidam kaulah 
itu satu
cinta...

Riesna Zasly
12 Juni 2011

FILSAFAT KEHILANGAN


"Kematian itu bukanlah suatu kehilangan yang besar. 
Kehilangan paling besar adalah apabila matinya.
apa yang ada dalam diri kita semasa kita masih hidup..."

Norman Cousin

Rintih Kematian


"Antara aku dan mati 
hanyalah sekadar selangkah
sama ada aku melangkah ke arahnya
atau ia melangkah ke arahku
rasanya aku memang tiada kudrat
untuk bergerak ke halanya
wahai mati yang mulia
dekatlah...
sudah lama kau menunggu ku
sudah lama kau merinduiku"

Yusuf Al Siba'i
Sasterawan Mesir

PUISI : Tegar


Kami mencari gelungan janji itu
benang-benang hikmat 
bicara nan dikata 
mampu merajut sulaman sejarah
semarak merah kain chita
kami tebar dalam 
hamparan lapang
acah pawana nan menggugat
lenggok helai kami tipis 
lewat serenggang jemari akrab

Kami tak akan mengatur kalah
membiar selembar berkerenyok
sulaman hilang arah jejak
apatah benang pudar sari warna

Sematanya kami akur
perdu tekad 
berzahir dari nubari
lestari menggerudi 
sati diri

Riesna Zasly
1 Juni 2011


MONOLOG JIWA : Rajutan Doa

 

Daku tidak tahu
nescaya apakah kiranya
takdir bagai memasung
diam berteman silir kasih
musuh terkocak tanpa berlatar
sepersis alur nafas tidak seragam
sengguknya bergiring musykil
hela memberat olahan tanya
mungkinkah ini dugaan
pada hadirnya cerah
lewat temaram duka

Tuhan..
pinpinlah daku ke rahmat-MU

RIESNA ZASLY
30 Mei 2011

MELAYU DELI - Gambus Palembang

s

 Pucuk pauh delima batu
anak sembilang ditapak tangan
sungguh jauh di negeri satu
hilang dimata, dihati jangan

Sungguh besar kota Melaka
dijaga orang malam dan siang
sungguh benar bagai dikata
takkan sama dengan yang hilang

"Memartabat wulangreh tradisi bangsa"

Mungkinkah Asmara?



Terkadang kelopak angan
sayup memacul
hati terpaku dalam 
getar bermadah
langit bersisip pawana 
dalam gerah jingga
membuat tubuh 
berlagu dalam gigil
bersela  raut berkuyu 
menggerah nuansa tegar
nan sukar terbina aksaranya

Mungkinkah asmara?

Reisna Zasly
26 Mei 2011

Sisipan "Relung Cahaya"


Ada garis cahaya yang jatuh
di bawah langit-NYA
seorang pendeta dialah guru yang baik
terlalu pintarlah ia
hingga menutup dirinya, sekian lama
tapi kau tahu cahaya itu
dia yang menjatuhkan cahaya itu
dari bintang dari bulan dan suria
mereka menyanyi, mereka menari
pendeta itu berjalan dengan kepala
aduh, ia menangisi nasibnya
didengarnya kembali degup sukma
air sungai mengalir, menetuk dinding
rohnya
ada yang datang bersama sejuk sungai
dan bayang cahaya
yang memberikan kelembutan
dan cinta....

Penghargaan Kenangan
Bonda Siti Zainon Ismail
Bunga Putik Putih
1990

IMPI & MIMPI


"Jangan takut untuk berimpian besar, 
kerana orang yang tidak punya impian 
bererti tidak punya cita-cita dan masa depan"

Wiwid Prasetyo
Novel "Orang Miskin Dilarang Sekolah"
Penerbitan Diva Press
Indonesia

KARYA AKAN DATANG : "Reinkarnasi Cinta"


"Istighar Zealita terhambur panjang. Kedua belah hujung siku bingkas ditekapkan pada paha. Lantas tubuh menunduk sedikit agar kedua telapak tangan ikut menekup di sebujur wajah. Berjeda. Sembari mencari-cari kekuatan dalam dirinya sejenak. Justeru cuba menyergap damai pada jiwa yang kian bergelora.

Zealita akur. Dia terlalu lelah untuk menghadapi semua dugaan itu. Hatinya juga sudah teramat jera untuk terus diterpa pelbagai ulah lewat permusuhan yang tiada berkesudahan. Apatah lagi hendak menempuhnya dengan tegar dalam riak perasaan yang utuh bersabar. Lebih-lebih lagi aral itu datangnya bukan dari orang lain. Malah, dari ibu mertuanya sendiri!"

BAB 8, M/Surat 7

PUISI : KETUANAN


Mereka meneriak pada ketuanan
selangit mendongak kepala
tinggi liang hidu tidak bertulang
bagai ingin menjergok awan
kerna baginya gahara
lagak tidak tertanding 

Mereka mengilai pada pegangan tuan
genggaman hak kosong digepal padat
meski isi belum ternilai jangka
ibarat mewaris itu kan 
teguh dilestari abadi
percaya mengambus jitu diri

Mereka melaung-laung lewat darjat perbezaan
bumi tandus ditegas-milik
pongah tanpa benih pecambah
sedang jerit keramat kebendaan
bukan saksi segala kuasa
satinya tunggal kepunyaan  Tuhan

Dan mereka terus menyenandung 
ningrat tanpa akal berbudi
membuak muak keangkuhan
muntah tanpa sisaan mendak
tingkah tanpa kaki menegap 
utuh dijejak tanah

Riesna Zasly
KDN, Ipoh

"Nafas Usia"


Keremajaan akan selalu menang
di negerinya sendiri
kerana orang tua tak ada haknya
di antara tanah lereng ini
kerana mereka tidak berpijak
pada kepejalan dari segi pengalamanmu

Sasterawan Negara 
Muhammad Haji Salleh
Buku Perjalanan Si Tenggang II
1975

POEM & HISTORY


"Poetry is finer and more philosophical than history; 
for poetry expresses the universal, 
and history only the particular"

Aristotle (384S M - 322 SM)

MELAYU DELI - Batu Belah


Batu belah Negri Sembilan
Dipecahkan oleh anaknya deli
Banyak susah yang ku tanggungkan
Putus kasih membawa mati

Batu belah, batu di gunung
Pecah berderai di waktu pagi
Hidup yang susah, biar kutanggung
Asal bersama si jantung hati 

"Memartabat warisan seni estetika budaya bangsa"